Kabarjagad, Kediri – Suroan adalah tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya pada bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam.
Tradisi ini biasanya melibatkan berbagai ritual dan kegiatan yang bertujuan untuk mencari keselamatan, keberkahan, dan membersihkan diri dari hal-hal buruk.
Pimpinan cabang Paguron Candradimuka Syahbandar Kari Madi ( SKM) Tenggerlor Kediri KR Marjuni Diningrat mengatakan Suroan di peringati atau tidak itu sesuai keyakinan pribadi masing-masing.
“Terserah pribadinya sendiri di peringati atau tidak malam 1suro, tapi bagi saya orang Jawa banyak sekali makna dan tujuan yang terkandung dalam ritual Suroan ini,” tuturnya.
KR Marjuni Diningrat menyampaikan di Paguron Candradimuka SKM mengajarkan tentang ajidiri agar tau diri sehingga memunculkan jatidiri di setiap indahnya.
“Selama ini insan insan SKM selalu di ajarkan tentang ajidiri dan dalam momen malam Suroan ini kami berkumpul bersama untuk mempererat silahturahmi yang selama ini jarang bertemu dengan kesibukan masing-masing,” ucapnya.
Makna dan Tujuan Suroan:
Bulan Suro:
Bulan Suro dalam kalender Jawa bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam.
Peringatan:
Suroan diperingati sebagai awal tahun baru dalam kalender Jawa dan sebagai waktu untuk memikirkan diri.
Keselamatan dan Keamanan:
Masyarakat Jawa meyakini bahwa bulan Suro adalah waktu yang sakral dan penuh berkah, sehingga mereka melakukan berbagai ritual untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Pembersihan Diri:
Beberapa tradisi Suroan juga melibatkan ritual pembersihan diri secara spiritual, seperti ruwatan, untuk membuang sial atau energi negatif.
Mempererat Silaturahmi:
Suroan juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.(mar)