Kemerdekaan untuk Semua: Anak-Anak Difabel Kota Batu Unjuk Bakat dalam Lomba Mewarnai

Kolase kebersamaan dalam kegiatan lomba mewarnai di Istana Karya Difabel (IKD) Sanggar Bintang Merah Putih Kota Batu. (Fur/kabarjagad)

Kabarjagad, Kota Batu – Semangat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Batu terasa lebih istimewa tahun ini. Perayaan kali ini tidak hanya dimeriahkan oleh upacara bendera, tetapi juga oleh semangat inklusivitas dan kemandirian yang digaungkan oleh komunitas difabel.

Bertempat di Istana Karya Difabel (IKD) Sanggar Bintang Merah Putih Kota Batu, kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, puluhan anak dengan beragam disabilitas menunjukkan bakat luar biasa mereka dalam Lomba Mewarnai bertema “Berkarya dan Berdikari” pada Sabtu, (30/8/2025).

Bukan Sekadar Lomba, tetapi Apresiasi untuk Potensi Anak Difabel

Pembina IKD, Thomas Maydo, S.Sos., mengungkapkan apresiasinya yang mendalam terhadap acara ini. “Ini adalah bentuk perhatian kita kepada adik-adik disabilitas, sehingga mereka bisa menyalurkan bakatnya. Saya lihat hasilnya sangat bagus-bagus, bahkan ada beberapa yang warnanya seolah-olah hidup,” ujarnya.

Lomba yang mengangkat tema alam ini diharapkan dapat menjadi terapi dan sarana bagi anak-anak untuk mendekatkan diri pada alam serta mensyukuri nikmat Tuhan.

Lebih lanjut, Thomas menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus diadakan, bahkan berencana untuk mendirikan posko-posko difabel di tiga kecamatan di Kota Batu. Posko ini nantinya akan menjadi wadah bagi anak-anak difabel untuk berkreasi, tidak hanya dalam mewarnai, tetapi juga dalam berbagai bidang lain seperti fashion show, olahraga, dan musik.

“Tentunya ini butuh kolaborasi dengan SKPD terkait dan forum-forum disabilitas, sehingga rencana yang sudah dibangun dapat terlaksana dan mengakomodir semua disabilitas di Kota Batu,” tambah Thomas.

“Kami Tidak Menjual Kesedihan, tetapi Menjual Karya Nyata”

Ernawati, Ketua IKD Sanggar Bintang Merah Putih, menjelaskan bahwa lomba ini diadakan untuk menunjukkan bahwa anak-anak difabel juga dapat berpartisipasi dan menyemarakkan kemerdekaan Indonesia.

“Tujuan kami hanya ingin memberikan wawasan kepada anak-anak tentang sejarah kemerdekaan dan yang terpenting, membuat mereka merasa bahagia,” kata Ernawati. Ia menegaskan kembali prinsip sanggarnya, “Kami tidak menjual kesedihan, tetapi menjual karya nyata.”

Lomba ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan adalah milik semua, termasuk anak-anak difabel yang dengan keterbatasan fisiknya, mampu melahirkan karya-karya menakjubkan. Momen ini sekaligus menjadi ajakan untuk masyarakat agar lebih menghargai dan mendukung potensi mereka, karena kemandirian adalah hak bagi setiap individu. (Fr)

Bagikan

Tinggalkan Balasan