KJ, Surabaya – Bayang-bayang resesi ekonomi semakin menghantui perekonomian global. Bahkan negara Ginseng Korea Selatan sudah lebih dahulu menghidap resesi global ekonomi, dampak pandemi virus Covid-19.
Pemerintah Pusat melalui Menkeu, Sri Mulyani pun sudah memberi signal, bahwa Indonesia akan menghadapi resesi ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi nasional minus 0,5% selama kwartal ke dua tahun 2020.
“Tapi di Surabaya, pertumbuhan ekonomi sebelumnya masih diatas nasional yaitu, 5,6%. Ini modal kita untuk terhindar dari resesi ekonomi nasional.”ujar Walikota Surabaya, Tri Rismaharini kepada wartawan di Surabaya, Selasa (01/09/20).
Wali Kota dengan segudang prestasi nasional maupun internasional menambahkan, langkah cepat agar roda perekonomian di Kota Pahlawan tetap positif meski di tengah pandemi.
“Itulah kenapa kemudian kemarin aku curi start, saya ambil kebijakan tidak mau ada PSBB. Lalu kita segera berlakukan new normal atau tatanan baru,”
Risma menjelaskan, pemberlakuan new normal secara ekstrem di Surabaya, guna menyelamatkan para Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dimana selama masa PSBB I dan II usaha mereka stagnan.
Belum lagi, kata Risma, pengusaha menengah dan menengah atas juga terimbas oleh PSBB, karena mata rantai produksinya tidak berjalan akibat PSBB I dan II.
Oleh karena itu, terang Risma, Pemkot Surabaya memberanikan diri secara optimisme pasar, tidak ada lagi PSBB tapi new normal dengan tetap disiplin protokol kesehatan.
“Kenapa, agar gerak roda seluruh lini ekonomi di Surabaya tetap berjalan, sehingga saat resesi ekonomi tidak jatuh secara ekstrem, masih bisa moving.”tegasnya.
Presiden UCLG ASPAC ini beralasan, jika PSBB itu diteruskan bukan tidak mungkin banyak pelaku usaha yang gulung tikar.
“Begitu ditutup, apakah dia tiba-tiba bisa jalan bagus? Kan tidak, harus mulai nol lagi kan. Makanya ini sebelum tutup saat itu, kenapa kemudian aku berlakukan new normal supaya bisnis mereka tetap eksis,”jelas Risma.
Dirinya juga mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian terhadap evaluasi perekonomian yang dia terima, menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2020 perkembangan ekonomi Surabaya masih positif.
Nah, berkaca dari sebelumnya, apabila Wali Kota Risma terlambat sedikit saja memutuskan kebijakan, bukan tidak mungkin akhir tahun ekonomi Surabaya mengalami keterpurukan.
“Kalau modalnya katut dipakai untuk makan, bagaimana dia (pelaku usaha) bisa bangkit, kecuali mengandalkan tunjangan atau bantuan. Makanya kemarin aku beranikan,” terang dia.
Wali Kota yang bergelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tongmyong, Busan Korea Selatan itu memastikan, Pemkot Surabaya berupaya maksimal untuk menjaga ekonomi di Kota Pahlawan agar tetap positif.
“Jadi kenapa kemarin saya ngotot itu (tidak memperpanjang PSBB). Tapi memang harus disiplin betul, kami gak boleh ceroboh atau salah perhitungan,”ungkap Risma.(Tris)












