KJ, Surabaya – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Timur tengah mengantisipasi gejolak inflasi, menjelang akhir tahun 2020.
Dalam sambutannya di High Level Meeting Dan Rapat Koordinasi Wilayah TPID Jatim, Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Difi A. Johansyah mengatakan, jelang akhir tahun dimana ada moment Natal dan Tahun Baru umumnya terjadi gejolak harga-harga bahan pokok di pasar.
“Untuk itu TPID Jatim sudah antisipasi terhadap gejolak harga, sehingga inflasi di akhir tahun masih terkendali “ujarnya di gedung Grahadi Surabaya, Selasa (03/11/20).
Difi A. Johansyah menambahkan, terpenting bagi TPID adalah inflasi rendah dan ekpekstasi inflasi kedepan TPID Jatim memproyeksikan hanya 2-3 % saja.
Jadi, kata Difi A. Djohansyah, jika kita mau hitung harga kenaikan harga pokok, kenaikan UMR, cukai rokok, kita sudah memiliki ekspektasi inflasi yang sebesar 2-3%. Sementara inflasi kita saat ini cukup rendah yaitu, 1,3% per September 2020 atau year on year.
Namun, terang Difi A. Johansyah, meski rendah inflasi diangka 1,3% hal ini juga mencerminkan sisi demand di Jatim masih lemah. Untuk itu kita masih terus effort atau berusaha, agar ekpekstasi inflasi kita masih dibawah 2% saja.
Difi kembali menjelaskan, jika inflasi di Jatim di bawah 2% maka gairah ekonomi di Jatim masih terbilang cukup bergairah, namun kita harus waspada jelang akhir tahun 2020. Pasalnya, secara historikal harga bahan pokok cenderung naik jelang akhir Natal dan Tahun Baru.
“Kami memproyeksikan inflasi di Jatim sampai bulan Desember 2020 berada dikisaran 1,47-1,67% saja, jadi masih relatif terkendali karena masih dibawah ekpekstasi TPID Jatim yaitu, 2-3%.”ungkap Difi.(Tris)












