Dr Muhamad Fajar Pramono Msi : Program Paslon 2 Ipong-Bambang Cukup Jelas Baik 5 Tahun Lalu Maupun 5 Tahun Kedepan, Sedangkan Program Paslon 1 Sugiri-Lisdyarita Tidak Jelas

Dr Muhamad Fajar Pramono Msi (Dosen Universitas Darussalam (Unida) Gontor dan Peneliti)

KJ, Ponorogo – Terkait Debat Publik Pilkada Ponorogo ke 2, Dr Muhamad Fajar Pramono, Dosen Unida Gontor dan peneliti memberikan cacatan penting terhadap para calon kepala daerah yang telah berdebat. Penilaian atau catatan tersebut berdasarkan pengamatan atau penelitian paska debat, Kamis malam 19 November 2020, yang ditayangkan secara langsung di tv swasta.

Menurut Dr Fajar, program kerja atau visi-misi Paslon No 2 (Ipong-Bambang sudah cukup jelas, baik apa yang sudah dilakukan 5 tahun yang lalu dan jelas pula apa yang akan dilakukan 5 tahun ke depan.

Yang dibutuhkan publik dari paslon 2, terutama terkait dengan konsintensi dan keberlanjutan program tersebut. Dan yang sama penting adalah terkait sinergisitas dan kolaborasi dengan berbagai potensi di Ponorogo terutama unsur Pesantren dan Akademisi. Tidak simbolis atau jargon, tetapi fungsional dan nyata. “Saya pikir itu PR paslon 2 (Ipong-Bambang) ke depan,” ungkap Fajar Pranowo yang disampaikan dalam cacatan debat publik ke 2 Pilkada Ponorogo 2020, kepada publik, tak terkecuali media kabarjagad.id, Jumat 20 November 2020.

Sedangkan Paslon 1 (Giri-Lisdyarita, lanjut Fajar, belum juga memanfaatkan forum itu dengan baik. Ada pertanyaan krusial dari calon 2, yaitu: 1- Terkait dengan visi tidak kunjung dijelaskan tentang Ponorogo Hebat. Yang ke 2- terkait prestasi dan kontribusi selama menjadi politisi demokrat.

Menurut Fajar jika Itu dijawab dengan bagus, lengkap dan terukur akan bisa merubah keadaan. Bisa meyakinkan bahwa yang bersangkutan pantas untuk mendapat amanah itu. Setidaknya publik akan mudah membaca keunggulan paslon 1.

“Sayang kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Justru kembali pada performa aslinya. Bias dalam visi dan misi. “Pokok e hebat dan pokok e kerja”. Tapi tidak kunjung tiba penjelasan apa kehebatan dan apa yang mau dikerjakan paslon 1,” lanjut dosen Unida ini.

Sugiri terkesan ingin menutupi kekuranganya dengan cara menyerang dan menyerang lagi terhadap Ipong. Namun dilakukan secara serampangan sehingga subtansinya tidak jelas. Sehingga terkesan ingin menutupi kekuranganya dengan cara menyerang.”Justru ingin menutupi kekurangannya dengan menyerang dan menyerang lagi, tapi secara serampangan dan menjadi blunder yang kesekian paslon 1. Seperti dalam mengukur jalan dengan rasa….he.. he.. Jalan itu diukur dengan.. meter (m) … kilo meter (km), dst. Bukan rasa,” ujar Dosen Unida sembari tertawa.

Ditambahkan, bila pejabat publik salah dalam menempatkan ukuran akan berbahaya karena rasa itu bersifat subyektif dan hanya cocok untuk menilai kesenian atau budaya “Rasa itu subyektif dan cocok untuk kesenian dan budaya. Salah menempatkan ukuran, Ini bahaya bagi pejabat publik,” tandas Muhamad Fajar Pramono, Dosen Unida Gontor.(Agus)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below