Ini Stimulus OJK Percepat Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu Dept.Store Di TP3 Surabaya.(Foto diambil awal Januari 2020 sebelum pandemi.Trisna-kj.id) 

KJ, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan kebijakan sebagai tindak lanjut stimulus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan sektor jasa keuangan yang telah disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Januari 2021, dan sinergi kebijakan Pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional. 

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan,  bahwa berbagai relaksasi kebijakan prudensial sektor jasa keuangan secara temporer untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih cepat, dengan mempertimbangkan adanya unsur idiosyncratic pada sektor jasa keuangan. 

“Pemberian pelonggaran peraturan prudensial ini bertujuan memberikan keleluasaan bagi calon debitur untuk memperoleh kredit berupa penurunan ATMR, yang dikaitkan dengan Loan-to-Value Ratio dan Profil Risiko serta BMPK, sebagai upaya menurunkan beban cost of regulation.”ujarnya dalam siaran pers OJK yang diterima redaksi kabarjagad.id, Jumat (19/02/21).

Ia menjelaskan, stimulus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan sektor jasa keuangan Pertam,  Kebijakan Perbankan, Kedua Kebijakan Kredit Kendaraan Bermotor.

Wimboh Santoso menerangkan,  menurunkan bobot risiko kredit (ATMR) menjadi 50% bagi Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dari sebelumnya 100%. 

Perbankan yang memenuhi kriteria profil risiko 1 dan 2 dimungkinkan untuk memberikan uang muka kredit kendaraan bermotor sebesar 0%. 

“Untuk kredit kepada produsen Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) telah mendapat pengecualian batas maksimum pemberian kredit (BMPK), penilaian kualitas aset 1 (satu) pilar. Selanjutnya, untuk penilaian ATMR Kredit diturunkan menjadi 50% dari semula 75%.”terangnya.

Terkait Kebijakan Kredit Beragun Rumah Tinggal, kata Wimboh Santoso, dalam rangka meningkatkan efektivitas penerapan relaksasi prudensial yang telah dikeluarkan pada tahun 2018 yang belum secara optimal diterapkan untuk mendukung program sejuta rumah, yaitu kebijakan terkait bobot risiko ATMR kredit beragun rumah tinggal yang granular dan ringan tergantung pada rasio  Loan to Value (LTV) sebagai berikut, Uang Muka 0-30% (LTV ≥70%) ATMR 35%, b. Uang Muka 30-50% (LTV 50-70%ATMR 25%, c. Uang Muka ≥ 50% (LTV ≤ 50%) ATMR 20% 

“Untuk Kebijakan Kredit Sektor Kesehatan, sebagai upaya dukungan langsung di sektor kesehatan untuk mengatasi pandemi, OJK menetapkan bahwa kredit untuk sektor kesehatan dikenakan bobot risiko sebesar 50% dari sebelumnya 100%.”ungkapnya.(Trs)

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below