Kredit Perbankan Hingga Mei 2021 Meningkat Rp32,23 Triliun

Posted by: Reply 45 Views

KJ, Jakarta – Meski masih terkontraksi -1,23% namun, kredit perbankan di market secara nasional tetap alami pertumbuhan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai dengan bulan Mei 2021, Kredit perbankan pada bulan Mei 2021 meningkat sebesar Rp32,23 triliun, namun secara tahunan masih terkontraksi sebesar -1,23% yoy dengan nilai kontraksi yang semakin kecil.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo mengatakan, ditengah pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19, penyaluran kredit perbankan sampai Mei 2021 meningkat Rp32,23 triliu.

Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan, kata Anto Prabowo, kembali mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 10,73% yoy.

“Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit yang cukup kompetitif, khususnya untuk kredit korporasi.”ujarnya dalam siaran pers OJK yang diterima redaksi kabarjagad.id, Kamis (26/06/21).

Anto Prabowo menjelaskan, sementara rata-rata tertimbang suku bunga modal kerja korporasi tercatat menurun dari 8,66% menjadi 8,52%, dengan pengenaan premi risiko yang konsisten dengan rating masing-masing korporasi.

Bahkan sejumlah korporasi mendapatkan suku bunga kredit yang lebih rendah dibandingkan yield surat utang korporasi yang diterbitkan untuk durasi yang proporsional.

Untuk sektor asuransi, terang Anto Prabowo, mencatatkan penghimpunan premi pada Mei 2021 sebesar Rp12,5 triliun dengan rincian Asuransi Jiwa sebesar Rp7,8 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp4,7 triliun.

Selanjutnya, ujar Anto Prabowo, fintech P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan cukup signifikan sebesar 69,1% yoy menjadi Rp21,75 triliun.

Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan masih berada di zona kontraksi dan mencatatkan pertumbuhan negatif 13,7% yoy di Mei 2021.

Ia menerangkan, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Mei 2021 masih relatif terjaga dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,35% (NPL net: 1,09%) dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan Mei 2021 meningkat menjadi 4,0% (April 2021: 3,9%).

Selain itu, Posisi Devisa Neto Mei 2021 sebesar 1,88% atau jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%.

Disisi lain, tambah Anto Prabowo, likuiditas industri perbankan sampai saat ini masih berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per Mei 2021 terpantau masing-masing pada level 150,96% dan 32,71%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

“Permodalan lembaga jasa keuangan juga masih pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio industri perbankan tercatat sebesar 24,38%, jauh di atas threshold.”tutur Anto Prabowo.

Dirinya kembali mengatakan, Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing tercatat sebesar 651% dan 336%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 2,01x, jauh di bawah batas maksimum 10x.

OJK secara berkelanjutan, tambah Anto P, melakukan asesmen terhadap sektor jasa keuangan dan perekonomian guna menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional, serta terus memperkuat sinergi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan.

“Perbaikan ini meneruskan tren positif selama empat bulan ke belakang, seiring berjalannya stimulus Pemerintah, OJK, dan otoritas terkait lainnya.”ungkap Anto Prabowo.(Trs)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below