Ekbis  

NGOPI Volume 19 BI Jatim Angkat Tema Batik

KJ, Surabaya – Ngobrol Online Inspiratif (NGOPI) volume 19 yang digelar Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur secara virtual, Rabu lalu (14/10/20) mengangkat tema ‘ Eksotisme Batik Indonesia’.

NGOPI yang dibuka oleh Kepala BI Jatim, Difi A. Johansyah kali ini menghadirkan beberapa nara sumber yang berkompeten di bidangnya diantaranya, Isyam Syamsi, seorang Fashion Designer dari Banyuwangi, Wulan Gandanegara, pengusaha tas batik brand ‘WG’, dan Hilda Sutanto, Owner Hello Batik.

Saat pembukaan Difi A. Johansyah – Ka. KPwBI Prov. Jatim mengatakan, batik identik dengan wanita. Dahulu batik dikenal hanya selembar kain panjang.

Dan di dua tahun terakhir ini, kata Difi A. Johansyah, Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa designer melalui KKI untuk membuat batik dengan beraneka motif, memadu padankan antara tenun sumba dengan batik lain menjadi suatu paduan yang indah.

Ia menambahkan, dari beberapa designer menemui problem bahwa mereka kekurangan orang yang bisa menjahit dengan baik, ini adalah peluang yang baik.

“Diharapkan bahwa acara ngopi dengan tema batik ini dapat menginspirasi dan membuka kreatifitas yang banyak sekali untuk para creativepreneur.”kata Difi A. Johansyah.

Sementara Fashion Designer Isyam Syamsi mengatakan, 10 tahun lalu, batik Banyuwangi masih belum dikenal di kancah nasional, sampai pada acara Batik Festival Banyuwangi dimana para designer menggandeng UMKM lokal mempublish batik-batik Banyuwangi yang belum banyak dikenal orang.

“Saat ini batik Banyuwangi sudah mulai banyak dikenal pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri dengan segmentasi market middle up.”pungkas Isyam Syamsi.

Sementara Wulan Gandanegara, Owner Bag WG menambahkan, selama empat tahun sejak 2016 menghasilkan karya berupa tas premium batik, akibat pamdemi pun, WG melakukan diversifikasi produk yaitu dengan membuat beberapa aksesoris lainnya seperti masker,scraf, twili, sampai dengan baju. Visi dan misi WG adalah menduniakan batik.

“Saya gencar untuk menduniakan batik dengan berbagai produk, terutama burupa tas luxury batik yang dibuat dari beberapa kain wasra nusantara seperti songket, tenun, dan batik. WG menyasar semua segmentasi pasar, agar dapat terwujud apa visi dan misi brand tas kulit WG sendiri.”terang Wulan.

Disatu sisi Hilda Sutanto, Owner Hello Batik menerangkan, memiliki bisnis batik tidak selalu butuh modal yang besar, Siapapun bisa memiliki bisnis batik walaupun dari rumah.

Dalam menghadapi pandemi ini, Hello juga mengeluarkan shifting product berupa masker, daster dan home wear yang nyaman dan tetap casual.di beberapa bulan ini, kondisi bisnis sudah mulai membaik, demand sudah mulai naik dan Hello terus melakukan kolaborasi dan berinovasi.”pungkas Hilda Susanto.(Tris)

Bagikan

Tinggalkan Balasan