Jelang Nataru, Polres Mojokerto Gelar Operasi Zebra Semeru 2022 selama 2 Pekan

Kabarjagad.id, Mojokerto – Polres Mojokerto menggelar apel gelar pasukan dalam rangka Operasi Zebra Semeru 2022. Operasi kepolisian kewilayahan dengan sandi Operasi Zebra Semeru 2022 itu dilakukan selama 2 pekan yakni tanggal 3 – 16 Oktober untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam berlalu lintas bagi masyarakat Jawa Timur guna cipta kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) menjelang Natal 2022 dan tahun baru 2023 pasca pandemi Covid-19.

Operasi Zebra Semeru 2022 itu melibatkan sedikitnya 3.478 personil, dengan rincian Polda Jatim sebanyak 348 personel dan satuan wilayah sebanyak 3.130 personil, yang akan disebar seluruh jajaran Polda Jawa Timur, baik di ruas jalan tol, arteri dan lokasi lain yang rawan pelanggaran, kemacetan, dan laka lantas.

Apel pengerahan pasukan dipimpin langsung oleh Kapolres Mojokerto AKBP Apip Ginanjar, yang dilangsungkan di halaman Mapolres Mojokerto, jalan Gajah Mada Mojosari. Apel pengamanan lalu lintas tersebut diawali dengan pemeriksaan pasukan oleh Forkopimda Kabupaten Mojokerto, serta penyematan pita tanda operasi oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati kepada 3 perwakilan personil dari Polri, TNI, Dishub.

“Dengan pelaksanaan Operasi Zebra 2022 tersebut diharapkan dapat menekan angka fatalitas laka lantas dan menciptakan Kamseltibcarlantas di seluruh Jawa Timur,” terang Kapolres Apip saat membacakan amanat Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta, Senin (3/10) pagi.

Kapolres Apip mengatakan, kecelakaan lalu lintas telah meningkat sejalan dengan peningkatan penggunaan kendaraan, perubahan gaya hidup dan peningkatan perilaku beresiko di Jalan Raya. Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia juga memiliki permasalahan yang kompleks, bahkan angka kecelakaan cukup tinggi.

“Berdasarkan data dari ditlantas Polda Jatim pada periode bulan Januari sampai dengan Agustus 2022 angka kecelakaan dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021 meningkat 70,23% dengan korban meninggal dunia sebanyak 3488 jiwa naik 38,25%, demikian juga dengan pelanggaran lalu lintas meningkat cukup tajam sebanyak 70% dengan angka 308.181 kasus atau naik sekitar 50,48%,” jelasnya.

Kapolres Apip membeberkan meningkatnya pelanggaran dan laka lantas di Jawa Timur tidak terlepas adanya peningkatan mobilitas penduduk seiring dengan menurunnya angka penyebaran Covid-19, di mana saat ini seluruh aspek kegiatan dapat dilaksanakan secara normal kembali, mulai dari sektor pendidikan, perkantoran dengan sistem work from office, dunia pariwisata dan hiburan yang sudah mulai dipadati oleh masyarakat dan lain-lain. 

Mantan Kapolres Pamekasan juga menyebut, untuk meminimalisir permasalahan itu terdapat 7 Prioritas pelanggaran yang dapat dilakukan penindakan gakkum, E-TLE dan teguran langsung. Antara lain pertama, pengemudi atau pengendara motor yang menggunakan ponsel saat berkendara. Kedua, pengemudi atau pengendara ranmor yang masih dibawah umur. Ketiga, pengemudi atau pengendara sepeda motor yang berboncengan lebih dari 1 orang. Keempat pengemudi atau pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm SNI dan pengemudi atau pengendara mobil yang tidak menggunakan safety belt.

“Kemudian pengemudi atau pengendara ranmor yang mengkonsumsi alkohol, pengemudi atau pengendara yang melawan arus, pengemudi atau pengedaran ranmor yang melebihi batas kecepatan,” katanya.

Kapolres Mojokerto juga menekankan kepada seluruh personel untuk melakukan beberapa pendekatan dalam melaksanakan operasi zebra ini. Diantaranya, pertama melaksanakan kegiatan edukasi kamseltibcarlantas kepada masyarakat secara intens khususnya kepada kaum milenial sehingga dapat menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalulintas. Kedua menekankan kegiatan aktif dan preventif didukung pola kegiatan penegakan hukum lantas secara elektronik dengan menggunakan E-TLE statis dan mobile, teguran serta tidak diperbolehkan melaksanakan penegakan hukum lantas secara manual situasional.

“Ketiga laksanakan kegiatan operasi dengan penuh simpati dan humanis serta tetap mematuhi protokol kesehatan. Keempat lakukan komunikasi koordinasi dan kolaborasi yang baik antar Stakeholder, sehingga dapat membangun sinergitas yang baik untuk mewujudkan Jawa Timur yang aman, nyaman dan damai,” pungkasnya.(mar)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below