Getuk Pisang Khas Kediri, Tradisi yang Tak Lekang Waktu 

Getuk pisang, sebuah nama yang mungkin sudah tak asing lagi bagi para pecinta kuliner tradisional. Kudapan manis ini merupakan salah satu ikon kuliner khas Kediri yang selalu berhasil memikat lidah siapa saja yang mencicipinya.

Terbuat dari bahan dasar pisang yang dikukus hingga matang, kemudian ditumbuk halus hingga mencapai tekstur yang lembut. Proses pembuatan getuk pisang ini terbilang sederhana, namun menghasilkan cita rasa yang begitu istimewa. Sentuhan gula dan sedikit garam menjadi penyeimbang rasa, menciptakan harmoni manis dan gurih yang pas di lidah.

Pak Anton saat membeli Getuk pisang mengatakan, Getuk pisang memiliki tekstur yang lembut dan rasa manis alami yang berasal dari pisang itu sendiri dan rasanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah serta getuk pisang di buatnya tanpa bahan pengawet dan pewarna. 

“Saya sudah lama jadi pelanggan getuk pisang di sini, rasanya itu nggak berubah dari dulu, tetap enak dan bikin nagih, getuk pisang ini camilan sehat buat keluarga saya, nggak ada bahan pengawet, jadi saya tenang kasih ke anak-anak.” katanya, Rabu (11/2/2026). 

Rahayu penjual getuk pisang mengungkapkan, sensasi manis dan lembutnya getuk pisang mampu memberikan kehangatan dan kebahagiaan di setiap gigitan. Selain itu, getuk pisang juga sering dijadikan oleh-oleh khas Kediri bagi para wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan manis dari kota ini.

“Alhamdulillah, getuk pisang kami ini banyak yang suka. Dari anak-anak sampai orang tua, semua pada doyan, teksturnya yang lembut dan rasa manis alaminya, sebab nggak pakai pemanis buatan, jadi rasa pisangnya itu terasa banget.” ucapnya. 

Di Kediri, getuk pisang dapat dengan mudah ditemukan di berbagai pasar tradisional, toko oleh-oleh, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Harganya pun sangat terjangkau, sehingga siapa saja dapat menikmati kelezatan kudapan tradisional ini.

Getuk pisang bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya Kediri. Keberadaannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Bagikan

Tinggalkan Balasan