Bupati Ipong Perketat Penanganan Pemudik dan Himbau Tata Cara Merayakan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid 19

Konferensi Pers Update Covid 19 dan kebijakan Pemda Lainya di Rumdin Bupati Jalan Aloon-aloon No 3 Ponorogo.(Foto Agus Zahid)

KJ, Ponorogo – Hampir semua pasien yang terkorfirmasi positif virus covid 19 di Kabupaten Ponorogo, semuanya tertular atau terkena dari luar daerah Ponorogo. Mereka dapat dikelompokan menjadi 3 cluster yakni Sukolilo (Surabaya), Temboro (Magetan) dan 1 cluster dari daerah lain-lain, (Termasuk Jakarta, Surabaya,red). Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo memperketat penanganan para pemudik yang masuk ke Ponorogo. Hal itu dilakukan untuk memutus mata rantai penularan covid 19 di bumi reog ini.

Hal demikian disampaikan oleh Bupati Ponorogo Drs H Ipong Muchlissoni dihadapan sejumlah wartawan pada saat konferensi pers di Rumah Dinas (Rumdin) Bupati  Pringgitan, Jalan Aloon-aloon Utaran No.3 Ponorogo, Selasa (19/5) sore lalu.

Bupati mengatakan, pihaknya menerapkan protokol penanganan mudik secara ketat. Karena itu, jika dibeberapa desa dilakukan pemortalan atau penutupan jalan desa, bupati berharap masyarakat yang lain bisa memaklumi. Hal itu dilakukan semata-mata untuk melindungi warga Ponorogo dari pengaruh covid 19. Namun demikian, tidak semua jalan-jalan poros dipemortal, sebab tujuan pemortalan bukan untuk mempersulitkan warga. Namun untuk melindungi masyarakat dari penyebaran covid 19 ke desa-desa.Yang terpenting adalah tetap memperhatikan protokol kesehatan secara benar.

“Saya pernah ditanya mengenai hal ini dilakukan (Penutupan jalan di desa desa,red), saya sampaikan bahwa Satgas di desa-desa melakukan pemortalan dalam rangka melindungi warga dari pandemi corona, untuk memotong mata rantai penularan covid tersebut. Namun tidak semua di tutup atau di portal, ada beberapa ruas jalan yang masih bisa diakses,” terang Bupati Ipong.

Terkait Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H, Orang nomor satu di Ponorogo ini menghimbau agar melaksanakanya di rumah bersama keluarga masing-masing. Ketentuanya, jika didalam keluarga itu hanya terdapat 2 orang, maka tidak perlu khutbah. Namun jika 4 orang, kepala keluarganya diminta untuk khutbah. Hal itu sesuai dengan surat edaran MUI tentang tata cara sholat Id ditengah-tengah pandemi covid 19.

“Sholat Id kita himbau dilaksanakan di rumah masing-masing, namun apabila ingin melaksanakan di masjid, harus memperhatikan protokol kesehatan dan harus memasang pengumuman hanya untuk warga setempat, pendatang yang belum 14 hari dilarang ikut dan tidak boleh bersalam-salaman. Khutbahnya cukup pendek, suratnya juga yang pendek misalnya Al ikhlas, atau Al Falaq,” terang Bupati Ipong yang dikenal perhatian terhadap rakyatnya ini.

Dalam perayaan Idul Fitri, pihaknya melarang menerbangkan balon dan atau membunyikan petasan, takbir keliling, genduren, sejarah atau anjang sana. Khusus anjangsana masih ditolelir dengan catatan cukup berada di luar rumah, dengan kata lain, tidak diperbolehkan memasuki rumah atau cukup menyampaikan salam dengan melambaikan tangan dalam jarak minimal 2 meter. “ Sejarah (anjangsana,red) silahkan tapi tidak boleh masuk rumah, cukup mengucapkan salam, melambaikan tangan , jaraknnya minimal 2 meter,” himbau Bupati.

Bupati menambahkan, pihaknya memberikan ijin kepada masyarakat yang melaksanakan kegiatan ekonomi. Namun harus dengan mematuhi protokol kesehatan tetap,yakni memakai masker, cuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak. “Semua jenis kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan ekonomi kita ijinkan tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan,” pungkasnya sembari menambahkan jika acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat lainya, seperti Ketua DPRD Sunarto Spd, Wakil Bupati, Kajari Ponorogo, WakaPolres Ponorogo, Kasdim, Ketua MUI Ponorogo dan sejumlah Kepala Dinas di Ponorogo. (Advetorial)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below