EC Diminta Mundur Dari ASN Jika Maju Pilwali Surabaya

KJ, Surabaya – Kepala Bappeko Surabaya, Eri Cahyadi (EC) diminta mengundurkan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), jika ingin maju dalam kontestasi pilkada, Pemilihan Walikota Surabaya 09 Desember 2020.

Politisi muda PKB Kota Surabaya yang juga Sekretaris Komisi B DPRD Kota Surabaya, Mahfudz melontarkan kritik keras kepada Eri, terkait semakin maraknya baliho dari Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi jelang Pilwali.

Menurutnya, hal itu adalah perbuatan tak beretika. Apalagi bagi seorang yang masih berstatus Aparatur Sipil Negara.

“Eri itu nggak punya etika. Kalau memang dia mau maju, mundur dari status ASNnya. Jangan begitu,” kata Mahfudz, Jumat (07/08/20).

Status Eri Cahyadi pun, menurut Mahfudz menjadi catatan khusus bagi dirinya. Apalagi menurut Mahfudz, orang Surabaya sering mengenal Eri sebagai anak emas Wali Kota.

“Anak emas penguasa. Harusnya tahu etika lah. Jangan bertindak pengecut,” cetusnya.

Kritik keras juga dilontarkan kepada jajaran Inspektorat Pemkot Surabaya. Seharusnya, lembaga itu menurut Mahfudz bisa berbuat lebih terhadap ASN-nya yang diindikasikan ikut Pilwali.

Menururnya, di Surabaya ini tidak ada birokrat lain yang pasang baliho selain Eri. Ia mempertanyakan, kemana ketegasan Inspektorat Pemkot Surabaya.

“Surabaya ini kok kayak ga punya Inspektorat. Masyarakat lah nanti yang akan menilai hasilnya. Masyarakat yang akan menilai ada birokrat yang tidak punya etika maju di Pilwali Surabaya 2020,” katanya.

Ia yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PKB itu menyarankan agar Eri Cahyadi untuk mundur dari jabatan kepala Bappeko Surabaya bila secara terbuka mulai ‘berkampanye’ secara terbuka.

“Dia mundur sekarang juga atau rakyat Surabaya akan mencatat bahwa Eri pengecut. Nanti alasan tiba-tiba direkom, dia kan selama ini pakai dana APBD,” katanya.

Sebagai anggota dewan, ia mengaku hingga saat ini tidak ada informasi bahwa Eri mundur. Sebab, pengajuan pengunduran diri pasti akan terdengar hingga DPRD Kota Surabaya.

“Belum ada itu. Kami pasti tahu kalau mundur. Nah saat ini potensi memanfaatkan kekuasaan oleh Eri saat ini sangat besar,” tegasnya.

Selama ini lanjut Mahfudz, Eri selalu beralibi tidak maju. Meskipun poster maupun baliho yang bergambar dia tersebar di mana-mana.

Modus demikian, kata Mahfudz adalah cara lama. Pura-pura tidak maju, namun ada niatan.

“Makanya alasan selalu seperti ini. Tak ada rekom, tak daftar. Tapi apabila direkom, diberi tugas jadi wali kota mau bagaimana lagi,” pungkasnya. (KJ4)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below