Dandim 0812 Lamongan Bicara soal Ancaman Proxy War Dalam Wawasan Kebangsaan Kepada FKPPI

Posted by: Reply 167 Views

KJ, Lamongan – Indonesia memang kerap kali menjadi buah bibir negara lain lantaran kekayaan alamnya yang melimpah.

Seluruh dunia mengetahui bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam, sumber daya energi, pangan, dan pasar dunia yang potensial.

Namun, semuanya justru menjadi petaka bagi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dandim 0812/Lamongan Letkol Inf Sidik Wiyono, S.H., M.Tr.Han saat memberi materi wawasan kebangsaan kepada Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Polri (FKPPI) dengan tema” meningkatkan sinergitas FKPPI bersama pemerintah mari jaga Lamongan untuk Indonesia maju” yang bertempat di Gedung KPRI Handayani dinas pendidikan Lamongan, Senin (16/12/2019).

“Kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia. Kekayaan alam Indonesia membuat iri negara-negara di dunia, tapi sumber daya alam justru menjadi petaka buat kita oleh karena itu kita harus waspada,” kata Romas Herlandes saat menyampaikan terkait wawasan kebangsaan, bela negara, cinta tanah air.

Romas mengungkapkan, sesuai dengan apa yang dikatakan Presiden pertama Soekarno, pesatnya populasi di suatu negara yang tidak seimbang dengan kesediaan pangan air bersih dan energi, merupakan salah satu sumber pemicu terjadinya konflik baru. Hal itulah yang membuat Indonesia akan jadi perebutan dunia.

Negara asing memperebutkan Indonesia dengan cara proxy war.
“Proxy war adalah perang yang salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau kelompok lain untuk berperang melalui berbagai aspek ilmu, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Kemudian perang dengan cara tidak langsung yang menyasar integritas bangsa dan negara yang menggunakan senjata soft dan hard power dengan proxy war insurgent, tokoh/pemerintah dan akademisi,” jelas Dandim 0812/Lamongan.

Tak hanya itu, proxy war menghancurkan negara lewat generasi muda Indonesia.
Budaya negatif, narkoba, judi dan seks bebas, menguasai pembuatan kebijakan dan legislatif dengan cara menyuap agar menghasilkan aturan undang-undang yang memihak kepentingan asing.

Lalu membeli dan menguasai media dan komunikasi di Indonesia serta melakukan penyadapan telekomunikasi menjatuhkan citra Indonesia dengan isu terorisme.

“Tantangan pemuda dalam membangun kebhinekaan di era komunikasi digital seperti unjuk rasa anarkis, pejabat negara dalam kasus korupsi, perang antar suku, pemakaian dan peredaran narkoba, penyebaran berita hoax, pencemaran lingkungan. Oleh karena itu kita harus bisa bijak dan bersatu karena ancaman ke depan semakin nyata dan perlu antisipasi sejak dini,” pungkasnya. (Pen/Tri)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below